53,6 Metrik Ton; Sampah Elektronik di Dunia

Share Artikel ini

Organisasi di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus sampah elektronik, Global E-Waste Statistic Partnership (GESP) mengeluarkan laporan yang menunjukkan sampah elektronik terus menggunung sejak lima tahun terakhir.

“Naik 21 persen dalam lima tahun,” kata GESP di situs resmi mereka, dikutip Sabtu (4/7).

Laporan edisi ketiga The Global E-Waste Monitor 2020 dirilis pada Juni lalu, menunjukkan sampah elektronik, atau e-waste, global pada 2019 mencapai 53,6 metrik ton, rata-rata per kapita 7,3 kilogram.

Kenaikan sampah elektronik per tahun mencapai 2,5 juta metrik ton. Sementara itu, kenaikan jika dibandingkan pada 2014 berjumlah 9,2 metrik ton.

Apa itu sampah elektronik?

GESP, berdasarkan Step Initiative 2014, dalam laporan tersebut menyebut benda elekronik sebagai Electrical and Electronic Equipment (EEE), yakni benda yang memiliki kumparan atau komponen elektronik dengan daya atau baterai.

Benda elektronik akan menjadi sampah elektronik jika dibuang pemiliknya dan tidak digunakan kembali. GESP membuat enam kategori yang termasuk barang elektronik.

Pertama berupa perangkat pengganti suhu udara, yaitu kulkas, lemari pendingin, dan AC.

Kedua adalah layar dan monitor, termasuk di dalamnya televisi, monitor, laptop, tablet dan notebook.

Ketiga adalah lampu, yaitu termasuk lampu mengandung fluorescent dan LED.

Keempat berupa perangkat besar, seperti mesin cuci, mesin pencuci piring, kompor listrik dan pengering pakaian.

Kelima adalah perangkat kecil, yaitu penyedot debu, microwave, pemanggang roti, teko listrik kamera hingga mainan elektronik.

Kategori keenam adalah perangkat komunikasi, yaitu ponsel, perangkat GOS, komputer, router dan printer.

Sampah elektronik pada umumnya masih mengandung material yang bisa diekstrak kembali, seperti aluminium, baja, dan besi.

Capai 53,6 Metrik Ton

Laporan tersebut menunjukkan Asia menyumbang sampah elektronik terbanyak pada 2019, sebesar 24,9 metrik ton, diikuti Amerika 13,1 metrik ton.

Eropa menghasilkan sampah elektronik sebanyak 12 metrik ton, diikuti Afrika dan Oseania masing-masing 2,9 dan 0,7 metrik ton.

Kenaikan sampah elektronik, menurut riset GESP dipicu tingkat konsumsi benda elektronik yang tinggi, usia pakai barang singkat dan hanya sedikit perbaikan.

Faktor ekonomi juga turut berperan dalam sampah elektronik, yaitu urbanisasi, industrialisasi dan kenaikan pendapatan yang siap dibelanjakan atau disposable income.

Temuan lain dari GESP, baru 9,3 juta metrik ton sampah elektronik yang dikumpulkan dan didaur ulang, atau 17,4 persen dari total sampah yang dihasilkan.

Sebanyak 44,3 metrik ton lainnya, atau 82,6 persen tidak terdokumentasi dan tidak jelas digunakan untuk apa.

Wilayah tertinggi yang mengumpulkan dan mendaur ulang sampah elektronik adalah Eropa yaitu 42,5 persen, diikuti Asia 11,7 persen dan Amerika 9,4 persen.

Oseania melakukannya sebanyak 8,8 persen, sementara Afrika 0,9 persen.

Di negara maju, produk elektronik yang sudah tidak terpakai bisa diperbaiki dan digunakan kembali, umumnya dikirim sebagai barang rekondisi (refurbished) ke negara berpendapatan rendah hingga menengah, jumlahnya mencapai 7 hingga 20 persen.

Hanya 8 persen benda elektronik tidak terpakai yang berakhir sebagai sampah elektronik.


Share Artikel ini
,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *